Kesultanan Cirebon
berlokasi di pantai utara pulau Jawa yang menjadi perbatasan antara
wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat, ini membuat Kesultanan Cirebon
menjadi pelabuhan sekaligus “jembatan” antara 2 kebudayaan, yaitu budaya
Jawa dan Sunda.
Sehingga Kesultanan Cirebon memiliki suatu
kebudayaan yang khas tersendiri, yaitu kebudayaan Cirebon yang tidak
didominasi oleh kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda.
Sejarah Kerajaan Cirebon
Dinamakan Caruban karena di
sana ada percampuran para pendatang dari berbagai macam suku bangsa,
agama, bahasa, adat istiadat, latar belakang dan mata pencaharian yang
berbeda. Mereka datang dengan tujuan ingin menetap atau hanya berdagang.
Karena
awalnya hampir sebagian besar pekerjaan masyarakat adalah sebagai
nelayan, maka berkembanglah pekerjaan lainnya, seperti menangkap ikan
dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai yang bisa digunakan untuk
pembuatan terasi. Lalu ada juga pembuatan petis dan garam.
Air
bekas pembuatan terasi inilah akhirnya tercipta nama “Cirebon” yang
berasal dari Cai(air) dan Rebon (udang rebon) yang berkembang menjadi
Cirebon yang kita kenal sekarang ini.
Karena memiliki pelabuhan
yang ramai dan sumber daya alam dari pedalaman, Cirebon akhirnya menjadi
sebuah kota besar yang memiliki salah satu pelabuhan penting di pesisir
utara Jawa.
Pelabuhan sangat berguna dalam kegiatan pelayaran dan
perdagangan di kepulauan seluruh Nusantara maupun dengan negara
lainnya. Selain itu, Cirebon juga tumbuh menjadi salah satu pusat
penyebaran agama Islam di Jawa Barat.
Pendirian dan Silsilah Raja Kerajaan Cirebon
Sebagai
anak laki-laki tertua, seharusnya ia berhak atas tahta kerajaan
Pajajaran. Namun karena ia memeluk agama Islam yang diturunkan oleh
ibunya, posisi sebagai putra mahkota akhirnya digantikan oleh adiknya,
Prabu Surawisesa (anak laki-laki dari prabu Siliwangi dan Istri keduanya
yang bernama Nyai Cantring Manikmayang).
Ini dikarenakan pada
saat itu (abad 16) ajaran agama mayoritas di Kerajaan Pajajaran adalah
Sunda Wiwitan (agama leluhur orang Sunda) Hindu dan Budha.
Pangeran
Walangsungsang akhirnya membuat sebuah pedukuhan di daerah Kebon
Pesisir, mendirikan Kuta Kosod (susunan tembok bata merah tanpa spasi)
membuat Dalem Agung Pakungwati serta membentuk pemerintahan di Cirebon
pada tahun 1430 M.
Dengan demikian, Pangeran Walangsungsang dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan Cirebon.\
Pangeran Walangsungsang, yang telah selesai menunaikan ibadah haji kemudian disebut Haji Abdullah Iman. Ia lalu tampil sebagai “raja” Cirebon pertama yang memerintah kerajaan dari keraton Pakungwati dan aktif menyebarkan agama Islam kepada penduduk Cirebon.
Pangeran Walangsungsang, yang telah selesai menunaikan ibadah haji kemudian disebut Haji Abdullah Iman. Ia lalu tampil sebagai “raja” Cirebon pertama yang memerintah kerajaan dari keraton Pakungwati dan aktif menyebarkan agama Islam kepada penduduk Cirebon.
Pendirian kesultanan Cirebon memiliki hubungan sangat erat dengan keberadaan Kesultanan Demak.
Semoga Sejarah Kerajaan Cirebon tadi dapat memberikan manfaat bagi teman-teman semua, sekian dan terimakasih.



